Aku tidak pernah benar-benar mengenal arti keluarga sejak kecil. Ayah dan ibuku pergi terlalu cepat, meninggalkanku sebagai anak yatim piatu yang diasuh nenek di sebuah kampung sederhana. Nenek sudah tua, hidup pas-pasan, dan kelelahan menghadapi sikapku yang keras dan penuh amarah. Aku tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, dan mungkin itulah sebabnya aku menjadi anak yang nakal, kasar, dan sulit diatur. Dunia seolah selalu memusuhiku, dan aku membalasnya dengan kemarahan.
Karena tak sanggup lagi mendidikku, nenek akhirnya mengirimku ke sebuah pesantren. Harapannya sederhana: agar aku menjadi manusia yang lebih baik. Namun, pada usia lima belas tahun, aku justru melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Saat bertugas membangunkan sahur, aku menyalakan petasan besar dari meriam bambu tanpa berpikir panjang. Ledakan itu memicu kebakaran di salah satu pondok. Seorang santri yang memiliki cacat fisik tidak sempat menyelamatkan diri dan meninggal dunia. Sejak hari itu, rasa bersalah menjadi bayangan yang terus mengikutiku.
Aku dikeluarkan dari pesantren oleh Buya. Namun sebelum pergi, beliau memberiku lima pusaka—bukan benda, melainkan pesan hidup. Nasihat-nasihat itu menancap kuat di kepalaku, meski saat itu aku belum sepenuhnya memahaminya.
Masa remajaku kuhabiskan di kota besar. Aku hidup dari mabuk-mabukan dan pekerjaan serabutan yang kuulang setiap hari tanpa tujuan. Di Capjiki, aku bertemu Bos Acong, seorang tokoh berpengaruh di dunia gelap. Anehnya, ia tertarik padaku karena aku tidak pernah takut menegurnya, bahkan mengingatkannya tentang masa lalunya. Dari sanalah hubungan kami terbentuk. Aku juga bertemu orang-orang lain: Mas Asep yang memberiku tempat tinggal, dan Mas Puji, tetangga yang sering kubantu.
Namun hidupku kembali berantakan ketika Mas Puji membuat kesalahan besar yang merugikan Bos Acong. Demi menyelamatkan Mas Puji, aku menerima hukuman yang seharusnya bukan milikku. Keputusanku itu mengantarkanku ke penjara.
Di balik jeruji, aku hidup dengan nama lain: Bahrun. Lima tahun di penjara bukan waktu yang singkat. Aku mengalami kekerasan dari sipir senior, dihina, dipukul, namun aku menahan diri untuk tidak membalas dengan kejahatan. Suatu hari, aku terpaksa membunuh seorang narapidana predator demi melindungi korban pelecehan. Meski begitu, aku tetap menolong sipir yang pernah menyakitiku saat ia berada dalam bahaya. Di penjara pula aku mengikuti pelatihan elektronik—keahlian kecil yang kelak mengubah hidupku.
Setelah bebas, aku membuka toko reparasi elektronik kecil. Tarifku murah, bahkan sering gratis untuk kerusakan ringan. Aku ingin hidup jujur dan sederhana. Di masa itulah aku bertemu Delima. Perempuan itu melihatku bukan dari masa laluku, tetapi dari caraku memperbaiki hidup. Lamaranku sempat ditolak, namun tiga bulan kemudian kami menikah. Kebahagiaan itu singkat. Kerusuhan tahun 1998 merenggut nyawa Delima. Kepergiannya menghancurkanku lebih dari apa pun yang pernah kualami.
Aku memutuskan pergi dari kota. Kenangan tentang Delima terlalu menyakitkan. Aku bekerja sebagai penambang di tambang ilegal dan bertemu seorang teman bernama Haryo. Ia sering berbicara tentang keikhlasan dan iman. Ketika bencana terjadi dan hampir semua penambang tewas—termasuk Haryo—aku selamat. Pesan terakhirnya membuatku kembali percaya kepada Allah.
Aku kembali, bukan sebagai orang yang sama. Dengan sisa tabungan dan keberanian, aku membuka sebuah rumah makan kecil. Aku menamainya Rumah Makan Delima. Nama itu bukan sekadar kenangan, tetapi janji. Janji bahwa hidup, seberat apa pun, tetap bisa dilanjutkan dengan kejujuran, kerja keras, dan kebaikan.
Di sanalah aku berdiri sekarang—bukan sebagai anak nakal, bukan sebagai narapidana, melainkan sebagai manusia yang pernah jatuh sangat dalam, namun memilih bangkit.
No comments:
Post a Comment